ASSALAMUALAIKUM
WR.WB
MTS.DARUL
AZHAR 2013/2014
LAMBANG
SEKOLAH
GURU : ............
JUDUL : MAKALAH
SKI ABDURRAHMAN BIN AUF
NAMA : ...........
KATA
PENGANTAR:
Puji syukur kita
panjatkan kehadirat ALLAH SWT atas berkah dan rahmatnya juga makalah ini dapat
selesai, dan tidak lupa pula shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada
nabi ALLAH yaitu nabi MUHAMMAD SAW beserta keluarga, kerabat serta
pengikut-pengikut beliau illayaumillkiyamah.
Melalui makalah
ini, penulis berusaha meyajikan materi yang berguna, untuk mempermudah rekan
kelompok dalam belajar.Akhirnya dengan penuh rendah hati, penulis menyadari
bahwa makalah ini masih belum bisa di sebut makalah sempurna, dari itu semua
penulis berharap agar makalah ini dapat bermanfaat bagi semuanya dan penulis
sendiri aminn......
BATULICIN,16
MARET 2014
DAFTAR
ISI:
KATA
PENGANTAR……………………………….
BAB I PENDAHULUAN..................................
1.1 LATAR BELAKANG..................................
1.2 TUJUAN...................................................
1.3 MANFAAT................................................
BAB II
ISI........................................................
BAB III
PENUTUP...........................................
A.KESIMPULAN.............................................
B.SARAN........................................................
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Dalam era yang
serba teknologi saat ini,kemajuan dibidang teknologi sangatlah bertambah dari
waktu ke waktu,membuat kita lupa akan salah satu sahabat yaitu ABDURRAHMAN BIN
AUF karenanya kita akan membahas pada bab ini.
1.2 TUJUAN
1.mengenal lebih
dekat ABDURRAHMAN BIN AUF
2.memahami sosok
ABDURRAHMAN BIN AUF
1.3 MANFAAT
1.agar kita dapat
mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari
2.selalu ingat
kepada ABDURRAHMAN BIN AUF
BAB II
ISI
A.BIOGRAFI
ABDURRAHMAN BIN
AUF adalah salah seorang dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, salah
seorang dari enam ahli syura, dan sahabat yang ikut dalam perang Badar. beliau
berbangsa Quraisy dari keturunan Az-Zuhri. beliau termasuk salah satu dari
delapan orang yang sangat cepat masuk Islam. Pada masa jahiliyah ia bernama
Abdu Amr, dan ada yang mengatakan Abdul Ka’bah, lalu (setelah masuk Islam) Nabi
SAW memberinya nama Abdurrahman. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata,
“Ketika duduk bersama Umar, dia berkata, ‘Apakah kamu pernah mendengar
Rasulullah SAW memberikan perintah kepada orang yang lupa dalam shalatnya, apa
yang harus diperbuat?’ Aku menjawab, ‘Demi Allah, aku tidak tahu. Ataukah
engkau pernah mendengarnya sendiri tentang masalah itu dari Rasulullah, wahai
Amirul Mukminin ?’ Umar menjawab, ‘Tidak’. Pada saat kami berdua sedang asyik
dalam diskusi, tiba-tiba Abdurrahman bin Auf muncul, lantas berkata, ‘Sedang
apa kalian?’ Umar lalu menceritakan apa yang sedang dia diskusikan bersama Ibnu
Abbas. Abdurrahman menjawab, ‘Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda (tentang
hal itu)’. Umar lalu berkata kepadanya, ‘Kalau begitu engkau menjadi penengah
kami, lalu apa yang kamu dengar?’ Abdurrahman berkata, ‘Apabila salah seorang
di antara kalian lupa dalam shalatnya, sampai-sampai tidak tahu jumlah
rakaatnya, lebih atau kurang, maka apabila dia ragu sudah satu atau dua rakaat,
jadikanlah satu rakaat. Apabila ragu bahwa sudah dua atau tiga rakaat, maka
jadikanlah dua rakaat. Apabila ragu sudah tiga atau empat rakaat, maka
jadikanlah tiga rakaat, sehingga ada pertimbangan untuk menambah, lalu lakukan
sujud sahwi dua kali, dan itu dilakukan pada saat takhiyat akhir, sebelum salam,
kemudian bacalah salam’. Walaupun semua sahabat Rasulullah adil, tetapi ada
sahabat yang lebih adil daripada yang lain, dan menurut satu riwayat, Umar RA
pernah merasa puas dengan informasi yang disampaikan oleh Abdurrahman. Dalam
kisah tentang meminta izin, bahwa Umar berkata kepada Abu Musa Al Asy’ari,
“Datangkan orang yang menjadi saksi bagimu.” Ali bin Abu Thalib pernah berkata,
“Apabila ada seorang laki-laki (sahabat) menceritakan kepadaku dari Rasulullah
maka aku akan menyuruhnya bersumpah.” Tetapi jika Abu Bakar yang bercerita,
maka Ali langsung membenarkannya dan Ali tidak pernah meminta Abu Bakar untuk
bersumpah.” Wallahu a’lam.Al Mada‘ini berkata, “Abdurrahman dilahirkan sepuluh
tahun setelah tahun Gajah.”
Diriwayatkan dari
Ibnu Ishaq, ia berkata, “Kedua gigi seri Abdurrahman rontok, pecah, dan cacat.
Musibah itu dialaminya saat perang Uhud, hingga membuat giginya rompal dan
terluka sebanyak dua puluh luka. Sebagian luka itu mengenai bagian kakinya
sehingga membuatnya pincang.”Utsman berkata, “Tidak ada seorang pun yang mampu
menandingi kebiasaan orang tua ini dalam kedua hijrahnya.” Di antara keistimewaan
Abdurrahman adalah kesaksian Rasulullah bahwa dirinya akan masuk surga. Dia
pahlawan perang Badar dan termasuk kelompok sahabat yang disebutkan dalam ayat,
لَقَدْ رَضِيَ اللهُ عَنِ الْمُؤْمِنِيْنَ إِذْ يُبَايِعُوْنَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ “Sesungguhnya Allah telah ridha
terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah
pohon.” (Qs. Al Fath [48]: 18) Apalagi Nabi SAW pernah shalat di belakangnya. Diriwayatkan
dari Amr bin Abdul Wahhab At-Tsaqafi, ia berkata, “Pada waktu kami sedang
bersama Al Maghirah bin Syu’bah, dia ditanya, ‘Apakah ada orang lain yang
pernah menjadi imam Nabi selain Abu Bakar?’ Dia menjawab, ‘Ya’. Lalu dia
menyebutkan bahwa Nabi sedang berwudhu, mengusap sepatunya dan serbannya,
kemudian beliau shalat di belakang Abdurrahman bin Auf, dan aku juga shalat
bersamanya satu rakaat, sedangkan satu rakaat lagi yang ketinggalan aku qadha.”Diriwayatkan
dari Qatadah, ia berkata, “Ayat, ‘(Orang-orang munafik) yaitu orang-orang yang
mencela orang-orang mukmin’. (Qs. At-Taubah [9]: 79) diturunkan ketika
Abdurrahman bin Auf menyedekahkan separuh hartanya sebanyak empat ribu dinar.” Orang-orang
munafik kemudian berkata, “Sesungguhnya Abdurrahman sangat riya`.” Diriwayatkan
dari Syaqiq, ia berkata, “Ketika Abdurrahman menghadap Ummu Salamah, ia
berkata, ‘Wahai Ummul Mukminin, aku sebenarnya takut masuk dalam kelompok
orang-orang yang rusak. Aku juga orang Quraisy yang memiliki banyak harta, dan
aku telah menjual tanah seharga 40.000 dinar’. Ummu Salamah berkata, ‘Hai
Anakku, berinfaklah, karena aku mendengar Rasulullah SAW bersabda,
“Sesungguhnya ada dari sahabat-sahabatku yang tidak melihatku lagi setelah aku
berpisah dengannya”.’ Lalu aku menemui Umar dan menceritakan kepadanya tentang
masalah itu. Beliau kemudian mendatangi Ummu Salamah dan berkata, ‘Demi Allah,
apakah aku termasuk golongan mereka?’ Ummu Salamah menjawab, ‘Tidak, dan
setelah dirimu, aku tidak akan membebaskan orang lain lagi ’.” Diriwayatkan
dari Abu Hurairah, ia berkata, “Suatu ketika muncul permasalahan antara Khalid
dengan Abdurrahman bin Auf, hingga membuat Rasulullah SAW bersabda, ‘Panggil
sahabat-sahabatku itu untuk menghadapku! Sesungguhnya jika ada salah seorang di
antara kalian menginfakkan emas sebanyak gunung Uhud, maka pahalanya tidak bisa
menyamai infak salah seorang dari mereka walaupun hanya satu mud atau
separuhnya’.” Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata, “Sesungguhnya
Rasulullah SAW bersabda, ‘Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada
istri-istriku’.” Abdurrahman kemudian memberikan wasiat kepada mereka berupa
sepetak tanah seharga empat ratus ribu. Di antara amal Abdurrahman yang paling
mulia adalah melepaskan jabatannya ketika bermusyawarah dan menyerahkannya
kepada orang yang ditunjuk oleh Ahlul Hilli wal Aqdi.Beliau benar-benar rela
melepasnya demi menyatukan umat di bawah kepemimpinan Utsman. Seandainya dia
mencintai jabatan itu, tentu dia akan mengambilnya sendiri atau memberikannya
kepada keponakannya dan mendekatkan jamaah kepadanya, yaitu Sa’ad bin Abu
Waqqash. Ibrahim bin Abdurrahman berkata: Abdurrahman bin Auf pernah jatuh
pingsan karena sakit, hingga orang-orang mengira dia telah wafat. Orang-orang
pun mendatanginya dan mengelu-elukannya. Tiba-tiba dia sadar dan bertakbir,
sehingga Ahlul Bait pun ikut bertakbir. Dia kemudian berkata kepada mereka,
“Apakah aku tadi pingsan?” Mereka menjawab, “Ya.” Abdurrahman berkata, “Kalian
benar. Pada saat aku pingsan tadi, ada dua orang mendatangiku. Orang itu
kelihatan kekar dan bengis. Mereka berkata, ‘Pergilah bersama kami untuk
menghakimimu di depan Al Aziz Al Amin’. Kedua orang itu lalu pergi bersamaku
dan kami bertemu dengan seorang pria di tengah perjalanan, lalu pria itu
berkata, ’Kemanakah kalian akan membawa pria ini?’ Mereka menjawab, ‘Berhakim
kepada Al Aziz Al Amin’. Pria itu berkata, ‘Kembalilah, karena sesungguhnya dia
termasuk orang-orang yang ditakdirkan akan mendapat kebahagiaan dan ampunan
sejak mereka masih dalam perut ibu mereka. Dia juga akan diberikan kesenangan
hingga jangka waktu yang ditetapkan oleh Allah’.” Setelah itu Abdurrahman masih
tetap bisa bertahan hidup selama satu bulan. Ibrahim bin Sa’id berkata:
Diriwayatkan dari ayahnya, dari kakeknya, dia mendengar Ali berkata pada hari
wafatnya Abdurrahman bin Auf, “Pergilah wahai putra Auf, sungguh kamu telah
menemukan kebaikan dan meninggalkan keburukan.”
Diriwayatkan dari Anas, ia berkata, “Aku melihat setelah meninggalnya
Abdurrahman bin Auf, setiap istrinya memperoleh harta sebanyak seratus ribu
dirham.” Ketika dia hijrah ke Madinah, dia sangat fakir. Rasulullah SAW
kemudian mempersaudarakannya dengan Sa’ad bin Rabi’, salah seorang tokoh
masyarakat, lalu Sa’ad menawarkan untuk membagi harta kekayaannya dengan
Abdurrahman dan akan menceraikan istri terbaiknya untuknya. Abdurrahman bin Auf
pun berkata, “Semoga Allah memberikan berkah pada harta dan keluargamu,
tunjukkan saja pasar kepadaku!” Setelah itu dia pergi ke pasar untuk berdagang
dan akhirnya mendapatkan keuntungan. Beberapa saat setelah itu dia memiliki
banyak harta. Ia lalu menikah dengan seorang wanita yang ia hiasi dengan emas.
Nabi SAW berkata kepadanya, “Adakan walimah, walaupun hanya dengan menyembelih
seekor kambing?” Setelah itu ia berhasil dalam berdagang dan sukses. Dia
meninggal pada tahun 32 Hijriyah dan dimakamkan di Baqi’. Abu Umar bin Abdul
Barr berkata, “Dia sangat pandai berdagang. Setelah meninggal dunia, ia
mewariskan seribu unta, tiga ribu kambing, dan seratus kuda. Dia juga memiliki
perkebunan di Jurf46 yang diairi dengan air hujan.” Menurut aku, Abdurrahman
bin Auf adalah sosok orang kaya yang pandai bersyukur, sedangkan Uwais adalah
sosok orang miskin yang pandai sabar, dan Abu Dzar serta Abu Ubaidah adalah
sosok orang yang Zuhud dan mampu menahan diri.
B.KEUTAMAAN
ABDURRAHMAN BIN AUF
Beliau adalah
salah satu dari sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira dengan surga. Adakah
nikmat yang lebih menggembirakan daripada surga Allah? Nabi Shalallahu’alaihi
Wassalam telah mendo’akan beliau untuk meminum dari air sungai surga. Berkata
Ummu Salamah, “Sesungguhnya yang akan menyokong kalian sepeninggalku adalah
seorang yang jujur lagi mulia. Ya Allah berilah minum Abdurrohman bin ‘Auf dari
sungai surga.” Dari Salamah dia mengatakan bahwa suatu hari Abdurrahman bin
‘Auf telah mewasiatkan suatu kebun yang diberikan kepada Ummahatul Mukminin
(Istri-istri Rasulullah) lalu kebun itu dijual dengan harga 400.000 dinar. Beliau
adalah salah satu dari enam sahabat ahlu syuro (pemegang keputusan) yang
dikabarkan oleh sahabat Umar bahwa Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassalam
meninggal dunia sedang beliau ridho dengan mereka. Berkata sebagian sahabat
tatkala Umar terbaring di ranjang yang di sanalah beliau meninggal dunia,
“Berwasiatlah wahai Amirul Mukminin, pilihlah siapa penggantimu!”, Beliau
menjawab, “Sama sekali saya tidak berhak dalam perkara ini, padahal ada di sana
sekelompok sahabat Rasulullah yang beliau meninggal dunia sedang beliau ridho
dengan mereka”. Lalu beliau menyebutkan mereka adalah Utsman bin Affan, Ali bin
Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Tholhah bin ‘Ubaidillah, Sa’ad bin Abi Waqqash,
dan Abdurrohman bin Auf.
Rasulullah
Shalallahu’alaihi Wassalam pernah mengadakan pembelaan untuknya Abu Sa’id
mengatakan, “Suatu waktu terjadi perselisihan antara Kholid bin Walid dan
Abdurrohman bin ‘Auf, lalu Kholid mencelanya. Tatkala berita itu sampai kepada
Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassalam, beliau mengatakan, “Janganlah kalian
mencela sahabatku! Sesungguhnya seandainya salah satu dari kalian berinfak
sebesar gunung uhud berupa emas, maka tetap tidak sebanding dengan infaknya
Abdurrohman bin ‘Auf”. Rasulullah pernah sholat di belakang (bermakmum) kepada
Abdurrohman bin ‘Auf. Mughiroh bin Syu’bah menceritakan, “Tatkala kami
berangkat perang tabuk, sebelum sholat shubuh pergilah Rasulullah
Shalallahu’alaihi Wassalam untuk buang hajat, maka aku bawakan air untuk beliau
bersuci dengannya. Ketika aku dan Rasulullah kembali, kami menjumpai para sahabat
telah menunjuk Abdurrohman bin ‘Auf untuk menjadi Imam menggantikan Rasulullah
Shalallahu’alaihi Wassalam dan kami masih mendapati satu rokaat terakhir.
Setelah Abdurrohman bin ‘Auf membaca salam maka Rasulullah Shalallahu’alaihi
Wassalam bangkit berdiri menyempurnakan 1 rokaat yang tertinggal, maka spontan
para sahabat terperanjat, hingga mereka memperbanyak tasbih. Tatkala
RasulullahShalallahu’alaihi Wassalam telah selesai dari sholatnya, beliau
berbalik menghadap para sahabat seraya mengatakan, “Sungguh kalian telah
benar”, seolah-olah Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassalammengatakan memang
hendaklah kalian sholat tepat di awal waktunya.
BAB III
PENUTUP
A.KESIMPULAN
Pada biografi di
atas kita dapat menyimpulkan bahwa beliau adalah sahabat yang dinyatakan dijamin
masuk surga dan beliau adalah sosok yang dermawan dan baik hati.
B.SARAN
Kita dapat
menerapkan perilaku dermawan dan baik hati beliau ke dalam kehidupan
sehari-hari.
itulah contoh
makalah ski abdurrahman bin auf,apabila ada kesalahan dan kekurangan mohon di
maafkan dan juga apabila anda menemui masalah dalam blog ini silahkan beritahu
saya di kolom komentar juga apabila anda ingin menambah/mengedit dan
mengeposkan silahkan,sekian dan terima kasih......